#CERPEN Tangisan seorang Gadis Arab atas gugurnya pejuang Islam di Jabal Uhud

Panas matahari yang sangat terik, tidak mematahkan semangatnya untuk terus berjalan dari mekkah menuju jabal uhud. Perjalanan itu ditempuh sejauh lima kilometer oleh seorang gadis cantik keturunan Ahlul Bait dari keluarga Rasulullah saw bernama Aishah binti Abdul Aziz. Langkah gontainya menerjang terpaan angin padang pasir, lisannya terus-menerus mengucap kalimat tasbih dan shalawat. Akhirnya, tibalah gadis itu di bawah bukit jabal uhud.

            Panas matahari masih bergejolak membakar kepala Aisyah yang di balut dengan Hijab syar’I dan berniqob berwarna hitam legam, kulit putihnya terlihat di jari-jemarinya. Pandangan mata yang indah terus menelusuri kaki bukit jabal uhud sampai pandangannya berhenti kearah puncak bukit gunung uhud. Tak sadar air matanya menetes membasahi Niqobnya, kisah dari Rasulullah saw memerangi kaum kafir Quraisy terlintas di benaknya, seakan ia langsung melihat kejadian perang uhud yang berkecamuk di masa itu.

Namun tiba-tiba lamunannya di buyarkan dengan kalimat salam dari seorang laki-laki yang ada di sampingnya.

“Assalamu’alaikum ukhty, dari mana kamu ?”

“Wa’alaikumussalam Warahmatullahi ya akhi, ana dari mekkah akhi.” Jawab Aisyah dalam pandangannya yang tunduk ke bawah.

“Apa yang membawa mu ke sini ya ukhty?” Tanya pemuda itu ke Aisyah

“Hanya untuk mengenal sejarah ya akhi” jawab Aisyah sambil melihat bukit jabal uhud.

“Orang-orang yang sudah mengunjungi Jabal Uhud pernah berkata kepadaku, bahwasannya jika kita ingin mengunjungi tempat ini harus diceritakan oleh seseorang agar seakan-akan kita menyaksikan perang yang ada di sini” jelas pemuda itu kepada Aisyah.

Aisyah menyipitkan matanya di balik niqob hitamnya. Tampaknya pemuda itu mengira jika ia tersenyum atas penjelasan pemuda itu.

“Baiklah akhi, silahkan bercerita. Aku akan dengarkan dengan baik!”

Pemuda itu tersenyum kepada Aisyah. Ia langsung mengalihkan pandangannya ke arah bukit jabal uhud dengan cuaca panas yang masing menyengat tubuh mereka berdua di atas tanah yang bertandus.

Pemuda itu mulai bercerita

“Dasar dari perang uhud adalah akibat umat islam memenangkan peperangan ketika melawan pasukan Quraisy pada perang Badar dikala itu. kemenangan besar umat Islam membuat para petinggi Quraiys merasa murka dengan semua ini, ia takut umat islam bakalan menyebar ke penjuru kota mekkah dan madinah. Di antara tokoh yang semangat sekali ingin menghancurkan umat Islam pada perang uhud yang akan di laksanakan yaitu Ikrimah bin Abu Jahal, Abu Sufyan bin Harb, dan Shaffwan bin Umayyah, serta Abdullah bin Abu Rabiah.

Hingga sampailah pada tanggal 3H di bulan syawal, kaum kafir Quraisy membentuk 3000 pasukan bersenjata di antaranya berkuda dan memakai baju besi untuk alat pelindung perang. Semua pasukan kaum kafir Quraisy akan di pimpin langsung oleh Abu Sufyan.

Namun dengan izin Allah, gerakan kaum kafir Quraisy untuk memerangi kota Madinah di ketahui oleh Rasulullah saw. Di kala itu Abbas bin Abdil Muthalib seorang paman Rasulullah membocorkan gerakan kaum kafir Quraisy. Dan dengan cepat Rasulullah mengumpulkan para sahabatnya  untuk berdiskusi dan memberikan pendapat, apakah kita harus keluar dari madinah dan melawan langsung apa tetap tinggal di rumah mereka dan berperang di dalam kota madinah?

Sebagian berpendapat untuk menyerang mereka di luar kota madinah. Dan Rasulullah saw menyetujui tanggapan dari sahabat-sahabatnya. Rasulullah langsung membentuk 1000 pasukan muslim bersenjata pedang, namun jumlah pasukan Rasulullah tidak sebanding dengan pasukan kaum kafir Quraisy. Tetapi hal itu tidak mengurangi semangat para mujahid untuk membela agama Allah swt.

Pada hari jum’at 6 syawal pada tahun 3 H, setelah shalat berjamaah, Rasulullah saw dan para sahabat bergerak meninggalkan madinah. Di tengah perjalan yang terletak di daerah Syaikhan, Rasulullah saw mendapati anak-anak ingin ikut berperang, namun Rasulullah menolak tawaran Anak-anak itu karena dengan alasan tidak cukup umur untuk mengikuti perang. Namun ada satu anak yang diterima oleh Rasulullah untuk ikut berperang dia itu adalah Rafi’I bin Khudaj, yang jika dilihat kemampuan memanahnya sangat bagus.

Keesokan harinya pada hari Sabtu tanggal 7 Syawal ketika tengah perjalanan perang uhud  dan setelah shalat subuh, ada sebagain pasukan Rasululllah yang memutuskan untuk tidak ikut berperang, mereka itu adalah pasukan kaum munafik yang tidak beriman kepada Allah dan Rasulullah saw. mereka itu bernama pasukan Abdullah bin Ubay. Ada sejumlah 300 pasukan dari kaum Abdullah bin Ubay yang tidak ikut berperang. Dan saat itu juga pasukan Muslimin berkurang menjadi 700. Namun semangat untuk menegakkan agama Allah di bumi tidak gentar sedikitpun, Allah swt menguatkan hati mereka agar tidak takut dan berani menghadapi yang mungkar.

Sebelum perang dimulai, Rasulullah menyiapkan pasukannya dan membagi menjadi tiga, pasukan pertama terdiri dari kaum Muhajirin yang dipimpn langsung oleh Mushab bin Umair, pasukan kedua terdiri dari suku dari suku Aus dari kauk Anshar yang dipimpin oleh Usaid bin Hudhair, pasukan ketiga terdiri dari suku Khazraj dari kaum Anshar  yang dipimpin langsung oleh Hubaib bin Mundhir.

Sedangkan Nabi saw, membentuk pasukan khusus yang terdiri dari pasukan yang pandai memanah, mereka berjumlah 50 orang dan dipimpin langsung Abdullah bin Jubair.

Para sahabat yang pandai memanah diperintahkan oleh Rasulullah saw untuk tetap di atas bukit dan jangan turun sedikitpun, apapun yang terjadi. Kecuali Nabi saw mengizinkan mereka untuk turun.

Adapun pasukan kafir dipimpin langsung oleh Abu Sufyan dan dibagi menjadi empat bagian, pasukan pertama berada di tengah dan dipimpin oleh Abu Sufyan, pasukan kedua berada di sisi kanan dan dipimpin oleh Khalid bin Walid, pasukan ketiga berada di sisi kiri dan dipimpin oleh Ikrima bin Abu Jahal, pasukan keempat yakni pasukan pejalan kaki yang dipimpin oleh Shafwan bin Umayyah.

Setelah masing-masing pihak menyusun strategi, akhirnya perang pun dimulai. Pasukan Rasulullah dengan pasukan kaum kafir Quraisy bertempur dengan dahsyatnya, panah dari pejuang muslim berhamburan menghunus dada, kepala maupun anggota tubuh kaum kafir lainnya. Bahkan satu demi satu suku Abdu Dar dari kaum kafir terbunuh. Hingga bendera yang di pegang oleh mereka terjatuh ke tanah.

Akhirnya pasukan kafir mundur dari medan peperangan, mereka berlarian meninggalkan pasukan mereka sendiri, pasukan kaum muslimin mendapatkan kemenangan, barang-barang milik pasukan kafir ditinggalkan begitu saja.

Melihat pasukan kafir mundur, dan meninggalkan harta mereka, pasukan pemanah yang diatas bukit merasa iri dan ingin juga mendapatkan harta rampasan hasil perang. Sehingga mereka melawan amanah nabi dan langsung turun hendak mengambil harta pasukan kafir.

Para pemanah sudah melanggar peraturan Nabi saw yang telah disepakati dan telah dibuat pada awal perang, namun mereka dibutakan dengan gelapnya harta yang ditinggalkan oleh pasukan kafir.

Dengan cepat Khalid bin Walid memutar halauan dari belakang dan menyerang balik pasukan Rasulullah saw setelah mereka melihat pasukan pemanah muslim turun dari bukit jabal uhud. Hingga terjadilah pertumpahan darah pejuang muslimin yang telah gugur di medan perang banyak dari pasukan muslimin di kala itu yang telah gugur.

Kondisi ini semakin parah ketika tersiar kabar bahwa Rasulullah saw pada situasi itu terbunuh, kondisi pasukan muslimin semakin parah, bahkan ada sebagian dari pasukan muslimin yang berlari menyelamatkan diri karena Rasulullah saw wafat.

Namun ada yang masih bertahan dan tidak memperdulikan kabar burung itu mereka tetap berjuang membela islam dan mati sebagai syahid.

Namun seiring berjalannya waktu di dalam pertempuran ada sebuah berita jika Rasulullah saw, masih hidup beliau berada di belakang medan pertempuran, maka para sahabat mendengar berita ini. Mereka kembali semangat dan membangun kekuatan baru untuk menyerang kaum kafir.

Abu Sufyan mengetahui keberadaan Rasulullah -shalallahu alaihi wassalam- dan langsung mengarahkan pasukannya untuk menyerang beliau dan membunuhnya. Pada waktu itu ada sembilan sahabat yang menjaga beliau.

Tujuh dari sembilan sahabat itu berasal dari Anshar dan dua dari Muhajirin. Rasulullah melihat Abu Sufyan menyerang beliau. Lalu beliau bersabda, “Siapa yang melindungiku aku akan ada jaminan dia masuk surga.”

 

Satu dari tujuh sahabat Anshar melindungi Rasulullah dari serangan kaum kafir hingga terbunuh. Sahabat kedua maju membantu beliau, dia juga terbunuh sampai tujuh sahabat terbunuh demi melindungi Rasulullah.

Tersisa dua sahabat muhajirin yaitu Saad bin Abi Waqash dan Thalhah bin Ubaidullah. Mereka menyerang kaum kafir hingga jari-jari Thalhah putus terkena pedang.

Pasukan Islam lainnya melihat posisi Rasulullah -shalallahu alaihi wassalam- terjepit, mereka berdatangan membantu kedua sahabat tersebut. Beliau dan para sahabat kembali menyerang, beliau juga mencari tempat yang aman untuk berlindung dari kerasnya pertempuran. Abu Sufyan mengalami kesulitan untuk menembus barisan sahabat hingga kelelahan dan tidak bisa lagi menyerang pasukan Rasulullah -shalallahu alaihi wassalam- yang berada di balik bukit Uhud.

Akhirnya abu Sufyan memutuskan untuk menarik seluruh pasukannya dari medan pertempuran dan kembali ke Makkah dengan penuh kekecewaan karena dia gagal membunuh seluruh pasukan Islam dan khususnya Rasulullah -shalallahu alaihi wassalam-.

***

Panas matahari kini sudah mulai redub, ditemani dengan awan tipis menghiasi kota mekkah maupun madinah. Tidak sadar Aisyah meneteskan air mata karena telah mendengar cerita panjang perang uhud. Pemuda itu melirik matanya, sekilas Aisyah bertatapan dengan pemuda itu lalu dengan cepat ia menundukan pendangannya.

“Ya, ukhti engkau mempunyai akhlak yang sangat mulia jika berhadapan dengan lawan jenis. Engkau beda dengan wanita zaman sekarang, siapakah nama mu ya ukhti ?”

“Aisyah, akhi. Antum sendiri namanya siapa ?”

“Aku Umar ya ukhti, salam kenal ya”

Aisyah hanya menganggukan kepala. Umar langsung menunjuk kearah maqam yang berada di tengah kaki jabal uhud. Ia menjelaskan kalau itu ialah pemuda-pemuda yang telah gugur pada masa peperangan uhud. Aisyah mendengar itu langung menangis.

“Ukhti, kau mungkin sangat cinta dengan para syuhada, ketahuilah kalau mereka yang berjuang menagakkan agama Allah di bumi ini tidak akan pernah mati, mereka kekal di surga selamanya.” Jelas Umar.

Aisyah langsung melirik mata Umar dan berkata

“Akhi, siapa yang kamu sesali dari para pejuang syuhada pada perang uhud ini.?”

Umar langsung menunduk, ia memijit bola matanya dan berusahan menahan air matanya agar tidak keluar di hadapan seorang wanita, namun ia tidak berhasil menahan air matanya. Air mata itu menetes membasahi baju gamisnya. Lalu dengan kalimat terbata-bata ia menjawabnya

“Yang paling aku cintai pada saat perang uhud ini adalah Hamzah bin Abdul Muthalib.”

Umar kembali menundukan kepalanya, kali ini tangisannya mulai memburu, nafasnya tersegukan.

Aisyah melihat Umar seperti itu, ia jadi ikut menangis dan membayangkan paman Nabi yang sangat sayang kepada Nabi saw.

“Mari sama-sama kita doakan para pejuang muslimin yang telah gugur di medan perang ini” perintah Umar.

            Doa dipanjatkan dari mereka dibarengi dengan hembusa angina yang sedikit kencang di waktu sore hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *